Penyap - Sayyidatul Imamah: Merenungi Kehidupan dari Pengidap Kanker dan Penderita Mental Illness


Seumur hidupnya, Anna selalu sakit parah. Keluarganya merelakan segala hal untuk penyembuhannya. Nora, sang kakak, bahkan rela mengubur mimpi untuk berkulliah. Dia selalu hidup dalam belas kasihan orang lain. Dan Anna tidak pernah suka itu.

Katanya, Leo itu anak aneh yang suka berbuat onar. Keluarganya amburadul, begitu juga dengan sekolahnya. Tidak pernah ada yang menganggap Leo ada. Sampai dia bertemu dengan Anna.

Anna dan Leo sama-sama memendam ketakutan dan harapan akan masa depan. Bagi mereka, hidup terasa menyakitkan untuk dijalani. Namun, apakah kematian merupakan jawaban yang tepat?
"Karena, bunuh diri bukan kematian."
"Itu tetap kematian. Tapi, bukan bagian dari kehidupan. Kita hidup, lalu kematian datang. Bukan kita yang mendatangi kematian." (hlm. 130)
Sicklit dan Mental Illness

Penyap merupakan novel sicklit yang juga mengandung mental illness. Anna, si tokoh utama, adalah penderita kanker. Dia yakin kematiannya sudah diambang pintu. Sebentar lagi dia mati. Karena kondisi keluarganya, Anna jadi merasa derpresi.

Di sisi lain, Leo tidak pernah hidup dalam kasih sayang. Orang tuanya sering mengabaikannya dan lebih memilih untuk mabuk atau teler. Ayah tirinya bahkan berlaku abusive ketika Leo ada di rumah. Belum cuma itu, di sekolah Leo juga dirisak karena katanya Leo adalah pembuat onar. Tidak jarang Leo berpikir mati lebih baik.
Saat melihat mereka memakai narkoba, aku selalu bertanya-tanya, apakah mereka tidak bisa menghirupku saja agar aku bisa mendapat lebih banyak perhatian? (hlm. 161)
Kedua tema ini berpadu dengan apik lewat tokoh Anna dan Leo. Penyap sendiri ditulis dengan dua sudut pandangan orang pertama, Anna dan Leo. Dari sisi Anna, kita akan diajak pelan-pelan menyelami kehidupan dan penyakitnya. Bagaimana Anna merasa bosan akan hidupnya dan merasa tidak berdaya menghadapi keluarganya yang mengorbankan segalanya untuknya.

Dari sisi Leo, pembaca akan diajak merasakan keputusasaan Leo terhadap hidup. Lebih lagi ketika Leo harus mengadapi para perundungnya di sekolah dan diperlakukan seperti samsak oleh sang ayah. Leo yang tidak berdaya.
"Kenapa kamu tidak melawan?"
"Dunia tidak selalu membiarkan kita melawan." (hlm. 31)
Rasanya tuh kayak ikut menjadi mati rasa karena kehidupan seperti tidak pernah berpihak pada Anna dan Leo.

Lebih lagi ketika membaca catatan Nora. Jadi, di Penyap ini ada juga tulisan semacam buku diari Nora. Ini salah satu hal yang nggak pernah saya sangka (karena saya pikir hanya akan fokus pada Anna dan Leo seperti blurb) dalam perjalanan membaca Penyap. Ketika baca udah semacam bisa memperkirakan sih, cuma ya itu beneran bagian Nora itu yang paling mengiris diri saya. :(

Merenungi Kehidupan

Penyap bisa dibilang bukanlan novel yang aman dibaca ketika kamu merasa letih dan lelah dengan kehidupan. Apalagi jika kamu berada di posisi Anna, yang menderita sakit, atau Leo, yang tidak diacuhkan keluarga. Atau sekadar ketika kamu merasa kamu sendiri (TAPI KAMU GAK SENDIRI KOK! Colek @missfioree kalau kamu butuh teman ngobrol, oke?).

Membaca Penyap sendiri membutuhkan waktu bagi saya. Tulisan Sayyidatul Imamah ini bagus, bagus banget. Dan berhasil banget bikin saya ikut menyelami penderitaan dan keputusasaan para tokoh.
Aku tidak memiliki apa-apa selain perasaan ingin tidur di dalam air. (hlm. 84)
Saya butuh jeda sejenak ketika membaca Penyap agar tidak ikut merasa putus asa. Namun, di balik segala kesuraman, keputusasaan, kesedihan, dan perasaan ingin mati dalam Penyap, novel ini diakhiri dengan sangat layak. Saya suka bagaimana konflik demi konflik dihadirkan dan penutupan yang disuguhkan. Cakep banget!

Meski membuat pembaca ikut depresi, penulis berhasil menyajikan akhir yang memuaskan dan melegakan. Seperti Anna dan Leo, pelan-pelan kita diajak merenungi kehidupan yang selama ini kita jalani.
"Aku tidak bisa selamanya di sini bersamamu, maka kita harus melanjutkan hidup agar bisa terus memperpanjang hal yang sementara." (hlm. 275)
Gaya tulisannya juga sumpah bagus! Nggak kerasa kalau ini ditulis oleh seorang yang masih muda. Coba aja baca kutipan yang langsung bikin saya naksir sama gaya penulisannya ketika membaca Penyap.
Kereta itu berkarat, tua, dan kuno, tetapi jalannya cepat, sangat cepat. Tidak ada yang bisa menghentikannya. Lajunya akan tetap seperti itu meskipun ada seseorag yang berbaring di bawahanya.  (hlm. 16)
Saya jadi penasaran dengan buku-buku lain dari penulis.

Penutup

Satu hal yang kurang dari Penyap, kisah cinta Anna dan Leo yang instalove. Terlebih dari sisi Anna sih, karena kurang dieksplorasi apa yang membuatnya tertarik pada Leo. Padahal cerita ditulis dari sudut mereka masing-masing, tapi saya tidak merasakan awal chemistry keduanya.

Selain itu juga latar tempat yang kurang jelas. Penyap ini seperti bukan berada di Indonesia, tapi citarasa sekolahnya Indonesia banget. Jadi sedikit bingung memahami latar tempatnya dalam imajinasi saya.

Terlepas dari itu, perkembangan hubungan mereka ditulis dengan sangat baik. Gaya tulisannya pun sangat memuaskan. Dan akhirnya bikin saya lega. (Yang kesisa cuma pengen memaki seluruh sekolah aja gegara liat Leo :'()

Penyap sangat saya rekomendasikan untukmu yang menikmati kisah young adult realistic yang mengangkat tema bunuh diri dan sicklit. Tulisannya cakep!

Buku ini saya dapatkan dari Storial.co secara gratis dengan ganti review jujur. Jika kamu ingin memiliki juga, cek post ini ya. Penyap akan diluncurkan pada 10 Oktober 2019!

Informasi Buku
Judul: Penyap
Penulis: Sayyidatul Imamah
Penerbit: Storial.co

Share:

0 comments