A Untuk Amanda - Annisa Ihsani

A Untuk Amanda - Annisa Ihsani
Amanda punya segalanya. Nilai-nilainya selalu A. Keluarganya bahagia, meski telah lama ayahnya meninggal. Dia tergolong cantik, walaupun tidak masuk siswi populer. Dan Amanda pumya Tommy. Namun, punya segalanya tidak membuat Amanda merasa bahagia.
"Kau hanya perlu lebih banyak berpikir positif dan bersyukur dengan apa yang kau punya, hanya orang-orang egois yang mengalami depresi..." (h. 119)
Begitu kata Tommy. Akan tetapi, Amanda selalu merasa dirinya penipu, sebuah kegagalan, dan tidak berharga. Meski Amanda telah berusaha bersyukur dan berpikir positif, dia masih belum bisa menghentikan pikiran-pikiran negatif dalam benaknya. Lalu, kesempurnaan perlahan runtuh dari hidup Amanda.

Tokoh Cerdas

Seperti Teka-Teki Terakhir, novel A Untuk Amanda ini ditulis dengan gaya tulisan yang akan mengingatkan pembaca pada novel-novel terjemahan. Lengkap dengan nama-nama yang nggak-Indonesia dan setting-nya, A Untuk Amanda ini terasa sekali hawa-hawa terjemahan. Namun, jangan salah, penulisnya orang Indonesia lho.

Terus, penulisannya sendiri dari sudut pandang orang pertama, dari tokoh utama kita Amanda. Amanda yang cerdas, selalu mendapat nilai A, juara kelas, ini menghadirkan narasi-narasi yang cerdas. Lengkap dengan pengetahuan Amanda soal fisika (bidang yang gadis itu minati), A Untuk Amanda menjadi sebuah novel yang kaya.

Percakapan Amanda dengan dokter Eli pun membuktikan bahwa "cerdas" karakter Amanada ini nggak cuma ditampilkan penulis lewat narasi orang pertama. Melainkan juga dari percakapan. Salut buat penulis yang berhasil mengemas kecerdasan Amanda di keseluruhan novel ini.

Selain Amanda, karakter favorit saya itu Helena. Helena yang melambangkan protes penulis terhadap "gadis cantik nggak mungkin pintar" benar-benar terasa.

Depresi Tidak Sama Dengan Tidak Bersyukur

Tema yang diangkat sendiri adalah depresi. Tema-tema mental illness ini belakangan memang menjamur di dunia pernovelan, ya, terlebih di novel YA. Untungnya, sampai saat ini novel-novel YA yang saya baca berhasil mengemasnya dengan baik. Termasuk dalam novel ini.

Karakter kita, Amanda, digambarkan punya segalanya. Meski ayahnya telah tiada, hidupnya baik-baik saja dan nyaris sempurna. Namun, pada akhirnya dia terkena depresi. Pelan-pelan, penulis menggambarkan bagaimana perasaan Amanda. Bagaimana gadis itu merasa semakin hari semakin tidak berarti. Bagaimana Amanda merasa selalu menjadi penipu di sekolah. Bagaimana kehidupannya hancur secara perlahan. Kadang, ketika saya sedang membacanya, saya ikut-ikutan merasa tertekan dan menderita seperti Amanda.

Di samping itu, penulis juga memunculkan segala rupa tanggapan orang tentang depresi dari karakter-karakter lain di sekitar Amanda. Ada banyak penolakan yang diterima Amanda. Kebanyakan beranggapan bahwa Amanda tidak mungkin depresi. Dia kan punya segalanya?

Lewat Amanda, penulis berusaha menyampaikan bahwa depresi bukan berarti kamu tidak bersyukur. Dan penulis berhasil! Salut!

Memang depresi itu ada dalam diri penderita, tetapi bukan berarti mereka tidak menghargai kehidupan makanya mereka depresi. Ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang depresi. Dan penulis menunjukkannya lewat Amanda.

Ah, ini juga ditampilkan bahwa kesadaran soal mental illness masih rendah. Sedih. :(
"Fakta bahwa kau datang ke sini adalah satu kemajuan besar. Beberapa orang malu mengakui mereka butuh pertolongan sehingga keadaan mereka malah memburuk." (h. 151)
Agnostik dan Lain-Lain

A Untuk Amanda ini merupakan novel bertema depresi yang bagus. Eksekusinya bagus. Karakternya jadi. Gaya berceritanya asyik.

Sayangnya, ada isu agnostik yang penulis bawa. Dengan label novel young adult, saya nggak tahu apa yang bakal dipikirkan seorang remaja terhadap isu itu. Saya juga nggak yakin bagaimana tanggapan saya terhadap isu ini jika saya belum berusia 20 sekian.

A Untuk Amanda ini memang novel berlabel young adult, tetapi ada banyak hal yang bisa dipelahajari dari sini. Saya cukup lega dengan akhir Amanda dan Tommy. Kenny memang brengsek. Saya juga lega dengan akhir yang dibuat penulis, meski entah kenapa kalimat penutupnya kurang nendang gitu.

Namun, keseluruhan, A Untuk Amanda layak banget dibaca sebagai bacaan ringan yang cukup berbobot bagi siapapun. Khususnya bagi kamu yang peduli soal mental illness dan menyukai novel-novel John Green.

Sebagai penutup, biarkan saya memberikan satu kutipan favorit.
"Misalnya orang-orang memandang rendah padamu, kenapa kau harus membiarkan apa yang mereka pikirkan memengaruhi kebahagiaanmu?" (h. 155)
Selamat membaca!

Share:

1 comments